Jumat, 06 Desember 2013
Jari Manis yang Telanjang
Langit mulai menghitam sejalan dengan langkah ku yang mulai meninggalkan bangunan tinggi menjulang dibelakangku. Mataku tertuju pada shelter busway di ujung jalan ini, rok span biru tua yang ku kenakan memperlambatku berjalan ditrotoar yang sudah tak rata lagi. Akar-akar pohon di pinggir jalan seakan memberontak, tak mau diusik wilayahnya dengan batu-batu semen diatas akar mereka.
Aku terus berjalan. Awan hitam ber tambah pekat menggelayut di atas sana. Daun-daun bergoyang di hempas angin yang membawa gumpalan kelabu penuh air yang siap diguyur. Sesekali rempel di baju ku berkibar ditiup angin, rambutku yang ku sanggul ke belakang mulai mengendor dikenanya. Busway yang selalu menjemputku sudah ku lihat dari ujung jalan, ku kayuh kaki ku secepat yang ku bisa, berharap busway itu tak meninggalkanku menanti bus berikutnya. Nafas ku mulai tersengal-sengal, jantungku berdebar seakan terlalu banyak darah yang dipompa. Kondektur mengernyit ke arah ku ketika ku minta menunggu sebentar.
Ahhh… akhirnya bisa ku sandarkan tubuh ini. Kakiku mulai berdenyut-denyut akibat ku paksa setengah berlari dengan wedges hitam tinggi ini. Ku gerak-gerakkan kaki ku berharap denyut-denyut darah itu berhenti menggelitik betis . Sepasang mata dalam bus itu menatap wedges ku, tak ku hiraukan tatapan itu. Mata ku arahkan pada supir bus didepan. Dan tepat dibelakangnya seorang wanita hamil duduk lekat dengan suaminya, erat tangan wanita itu digenggam seakan tak rela istrinya pergi sendirian.
Hati ku mengeluh “Alangkah bahagianya wanita itu, di dampingi suaminya kemana-mana.” Hatiku kalut. Seserpih lara itu mulai menganga di relung hati yang tak seberapa lebar ini. Gurat-gurat nadi hati mulai membengkak memecah tapi tertahan. Membawa kepedihan teramat dalam di hidupku. Buku-buku otak ku mulai terbuka, terbuka pada lembar-lembar perih masa lalu.
Bagaimana aku menikmati hidup tanpa seorang adam dalam hidup ini, dan ketika mereka mulai berceloteh tentang kenakalan anak-anak manis dengan pipi yang menggelembung,mata-mata jernih mereka seakan menghapus kusut otak yang mengerut, mengendorkan otot yang menegang sehari penuh. Sekarang siapa yang akan kuceritakan tentang sepinya dunia yang di penuhi laporan-laporan keuangan bulan ini. Siapa yang ingin mendengarkan ceritaku ketika malam menjemput senja? Masa seakan melambat, mencekik ku dengan kesendirian tak bertepi. Permohonan selalu terlantun, tapi takdir seakan belum ingin menulis apa yang ku pinta.
Ku buang muka ke jendela bus di depan ku, titik-titik hujan mulai terlempar dari awan gelap diatas sana, samar-samar kilatan cahaya putih terbentuk di selah-selah gumpalan hitam. Titik-titik itu mulai membesar, bertambah banyak . Mataku lekat memandang kaca bus yang mulai mengembun tertutup butiran kecil air, sembilu teringat sesaknya dada di campakan lelaki yang memujaku dulu. Memberikan sejuta harapan dalam hidup ini. Di ruang yang hangat ketika hujan deras mengguyur diluar, dia selalu memeluk ku dari belakang, menggengam erat tanganku. Dan bisikan-bisikan itu seakan tak terhapus dalam benak bersamanya, hangat peluknya mungkin tak sehangat milik orang lain. Lelaki yang selalu menjemputku seusai kuliah, menceritakan hal-hal hebatnya ketika sekolah dengan semangat menggebu dan mata coklat lumpur yang selalu berkedip manja. Setiap dia bercerita pikiran ku selalu melambung, betapa indahnya jika bisa bersanding dengan lelaki itu, memiliki anak-anak yang manis,dengan rumah mungil yang bersih. Ahhh… sungguh tak bisa ku bayangkan betapa bahagianya kelak.
Masih ku rasa lengan ini sakit karna pelukannya teramat erat,namun nyamannya dipeluk lelaki yang ku cinta menghamburkan sakit yang kurasa. Terlebih ketika dia membelai lembut rambut dan wajah ini. Mengulum bibir merah ku hingga tak kurasa dunia ini berbutar. Semakin erat pelukannya semakin dalam buaian yang tak menyadarkanku.
Namun kelam coklat mata itu seakan menenggelamkan raganya. Dia yang kunanti di depan fakultasku tak lagi menjemput ku. Dia telah lenyap , terbawa angin yang menerbangkannya dari bumi ini, bahkan air menghapus jejaknya dari tanah yang ia pijak. Berhari-hari aku mencarinya, tidak seorang pun mengetahui lelaki pembawa hati ku berada. Tak secuil pun ia tinggalkan pesan untuk ku. Bahkan rumahnya telah kosong berminggu-minggu yang lalu. Aku menantinya. Hatiku seakan tertutup tanpa keharidaran orang yang pelukannya menghanyutkan itu.
5 tahun bukan hal yang mudah untuk ku lalui, tak kunjung ia menghampiri ku di rumah kecil yang dulu tempatnya bermanja-manja denganku. Kata-kata manisnya mulai menjadi sayat dalam jantungku. Betapa tidak, telah tinggi ku gantungkan asa ku padanya. Namun mulut berbusa dengan segala janji manis palsunya tak peduli batapa diri ini sungguh mengharapkan semuanya akan terwujud . Kini dia hilang meninggalkan pilu.
Orang tua ku bahkan heran kenapa di usia ku yang telah berkepala 3 tak kunjung memilih seorang adam dalam hidupku. Setiap pertanyaan itu keluar, mulutku selalu terkunci, tak bisa ku katakan sedikitpun untuk membela diriku sendiri. Ibu ku sering menghawatirkan ku, ibu yang mengharap cucu dari rahim anaknya belum juga ku penuhi. Sering ibu menatap ku nanar dengan mata berkaca dan berkata “kamu baik-baik saja Asti??” tubuh ku selalu bergetar melihat ibu yang menatap ku iba dalam hidup serba sendiri. Aku hanya mampu mengangguk karna itu yang aku bisa jika berjumpa dengannya. Dalam hati aku mengutuk diriku, kenapa aku terkunci dalam rajutan jaring lelaki itu, lelaki yang meninggalkan ku dengan membawa semua hatiku. Tak meninggalkan sedikit pun bekas, hingga aku tak mampu mencintai orang lain. Ini kah ke setiaan yang orang lain cari-cari?? Kesetiaan yang menyakitkan hingga jari manis ku masih telanjang. Hatiku seakan memberontak keluar karna tak sanggup menahan sakit lagi. Hati ini telah bekerja bertahun-tahun untuk menghapus semua, tapi hangatnya tak mau menghilang.
Sudut-sudut mata ku serasa meluber tak mampu menampung air bah dalam diri ini. Kabut hujan ini seakan mulai menelusup, membungkus hati ku dengan dinginnya. Air mata yang menetes di tangan menyadarkan ku. Perlahan ku hapus air di pipiku dengan tertunduk. Ku sesali kenapa hujan di luar telah reda,dan kenapa bus ini juga terasa cepat membawa ku pulang. Buru-buru aku berdiri untuk keluar dari bus itu, aku telah sampai di ujung jalan rumah ku. “ahhh,,, tak usah buru-buru. Tidak seorang pun menunggu ku di rumah. Mungkin juga sampai di ujung usia ku. Nikmati saja bau aspal yang menguap ini.”
Ku susuri jalan beraspal menuju rumahku, titik-titik hujan sesekali mengenai wajahku yang mulai lesu. Genangan-genangan air di depanku membuatku menyinggir agar wedges ku tak basah. Tak seorangpun berada di jalan ini kecuali aku dan beberapa mobil yang terparkir di depan rumah-rumah besar ini. Pikiran ku kosong. Tak satu pun hal yang bisa kupikirkan. Sebentar lagi aku sampai di rumah, entah kenapa perasaan aneh tak bisa ku jelaskan muncul dari sela hatiku. Ada apa gerangan. Di rumah???
Kosong. Rumah ku kosong, dan memang seperti itu setiap harinya. Ku taruh tas ku di atas meja makan bundar itu sambil melepas wedgesku yang setengah basah. “Kringgg…Kringgg….”
Mataku beralih ke pintu depan, siapa gerangan yang bertamu seusai hujan deras itu?? Tanpa alas kaki cepat-cepat ku buka pintu depan. Ketika pintu ku buka, mataku terbelalak menatapnya. Lelaki itu menubruk ku dengan peluk eratnya. Dia. . . pelukan yang kunanti kembali.
Denpasasr 12 November 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar